warna

Monday, December 31, 2012

( Baraya Sunda ) Panceg Dina Galur Komunitas Metal Bandung


Salam tilu jari... jadi inget metallica euy...

".Panceg dina galur/babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan awak
lebur." (Teguh dalam pendirian, bersama-sama menjaga kampung dan
persaudaraan. Tidak akan bergeming walaupun badan hancur lebur). Petikan
naskah kuno Amanat Galunggung yang dituliskan Rakeyan Darmasiksa (Raja Sunda
Kuno yang hidup pada 1175-1297 Masehi) itu disadur menjadi lirik lagu
berjudul "Kujang Rompang" oleh Jasad, sebuah band beraliran death metal asal
Bandung. Lagu ini ikut memeriahkan Deathfest IV, festival akbar death metal
yang diadakan di Lapangan Yon Zipur, Ujungberung, Bandung, Sabtu (17/10).
Ribuan anak muda, mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa, larut dalam
hiruk-pikuk event musik metal yang disebut-sebut terbesar di Asia ini.

Meski pertunjukan musik baru mulai selepas maghrib, pada siang hari yang
sangat terik itu mereka sudah nongkrong menunggu band-band idola mereka
manggung. Sambil mengenakan kaus hitam bermotif seram dan atribut metal
lainnya, mereka antusias menunggu.

Filosofi panceg dina galur bukanlah sekadar inspirasi dalam berkarya musik
bagi Jasad, melainkan juga menjadi pandangan hidup seluruh anggota dan
penggemar musik metal di Bandung, khususnya yang bernaung di daerah
Ujungberung.

"Mau seperti apa pun kita, macam mana bungkusnya, yang penting grass root
(akar bawah) harus kuat. Harus sadar dan jangan lupakan budaya kita," ujar
Mohammad Rohman, vokalis Jasad.
Bagi masyarakat awam, bahkan dibandingkan komunitas band metal lainnya di
Indonesia maupun dunia, keberadaan subkultur band death metal asal
Ujungberung ini merupakan sebuah paradoks. Musik metal, tetapi lirik dan
pesan nyunda adalah perpaduan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Ketika di banyak tempat sub-subkultur atas nama aliran musik berhaluan Barat
macam punk, grunge, maupun grindcore gencar melakukan perlawanan budaya
lokal, entitas penggemar musik metal Ujungberung yang berada di wadah
Ujungberung Rebels dan Bandung Death Metal Sindikat itu justru melakukan hal
sebaliknya.

Sebagai contoh, konser Death Festival IV yang diikuti 12 band death metal
itu mengangkat tema kampanye penggunaan aksara kuno. Di festival yang
menjadi salah satu pembuka penyelenggaraan Helar Festival 2009 (festival
industri kreatif di Bandung) itu, panitia membagi-bagikan leaflet mengenai
cara menulis aksara sunda kuno kagana kepada penonton yang rata-rata masih
berusia ABG.

"Di sekolah-sekolah, saya lihat, ini (kagana) tidaklah diajarkan. Daripada
kelamaan menunggu pemerintah bertindak, kami duluan saja yang mulai
bergerak," ujar Rohman yang biasa disapa Man "Jasad" ini di sela-sela
konser.

Di luar panggung, Man dan kawan-kawannya kerap memakai iket kepala sebagai
penanda identitas kultur Sunda. Meski, sehari-harinya mereka tidak lepas
dari jaket kulit hitam maupun aksesori anting-anting dan tato.

Upaya mengenalkan tradisi Sunda tidak terhenti di sana saja. Di dalam
berbagai kesempatan, anak-anak Bandung Death Metal Sindikat kerap
menyisipkan pertunjukan karinding, celempung, dan debus.
"Kesenian karinding yang selama 400 tahun tenggelam coba kami hidupkan
kembali," tutur Dadang Hermawan, anggota Bandung Death Metal Syndicate. "Di
tiap Minggu dan Jumat melakukan tumpek kaliwon di Sumur Bandung dan
Tangkuban Parahu untuk membicarakan kesenian Sunda," tutur Man Jasad
kemudian.

Terbanyak di dunia
Kelompok band metal yang ada di Ujungberung bahkan disebut-sebut yang
terbanyak di dunia. Sejak awal 1990-an hingga kini, band-band metal tumbuh
subur di Ujungberung. Saat ini terdapat sekitar 200 band metal hanya di
wilayah pinggiran Kota Bandung ini.

"Padahal, Bandung hanya kota kecil jika dibandingkan dengan kota-kota di
Jerman. Apalagi, di sini band-band ini kan harus dikondisikan bisa bertahan
hidup di tengah banyak persoalan dan tekanan aparat," tutur Philipp
Heilmeyer, mahasiswa sosial-antropologi Goethe Universitat Frankfurt,
terheran-heran.

Philipp sudah tiga bulan ini berada di Bandung untuk melakukan prapenelitian
mengenai kehidupan kaum metal di Ujungberung ini. Hal lain yang menarik
perhatiannya adalah mengapa komunitas metal di Ujungberung ini bisa bertahan
justru dengan tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.

"Di Jerman, kaum metal biasanya lekat dengan kebiasaan mabuk-mabukan dan
narkoba. Tetapi, mereka di sini malahan melakukan ini," ucapnya sambil
merujuk kegiatan sosialisasi aksara kagana yang dilakukan Bandung Death
Metal Sindikat.

Yang disesalkan Aris Kadarisman (35), pentolan grup band Disinfected,
masyarakat, khususnya kepolisian, melihat kaum metal justru dari sisi
kelamnya.

Perang melawan stigma bahwa musik metal tidak identik dengan kekerasan,
narkoba, dan semacamnya menjadi semakin sulit pascatragedi konser maut grup
band Beside di Asia Africa Culture Center yang mengakibatkan tewasnya 11
penonton, Februari 2008. "Padahal, ini terjadi lebih karena persoalan
teknis, tidak cukupnya kapasitas tempat," ucapnya.

Kemandirian ekonomi
Di tengah-tengah dorongan untuk mewujudkan mimpi memiliki gedung konser yang
representatif, anak-anak metal ini seolah-olah terusir dari kota
kelahirannya. Konser di gedung maupun tempat terbuka kini menjadi hal langka
buat mereka. Deathfest IV pun bisa terwujud karena menggandeng kegiatan
Helarfest 2009.

Kondisi ini pun disayangkan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil.
Menurut dia, jika dilihat lebih jauh dari dalam, komunitas metal di Bandung
menyimpan keunggulan yang luar biasa besar. Keunggulan itu terutama soal
kemandirian ekonomi.

Dari musik yang diciptakan, didukung loyalitas para penggemarnya, secara
tidak langsung itu menumbuhkan pula industri fesyen, rekaman, bahkan
literasi.

Setidaknya, ada enam titik simpul industri fesyen yang dirintis sesepuh band
metal di Ujungberung semacam Scumbagh Premium Throath yang didirikan
almarhum Ivan Scumbag dari Burgerkill.
"Jika musisi lain itu filosofnya adalah musik untuk kerjaan, kami justru
sebaliknya. Dari kerjaan, bisnis, ya untuk menghidupi musik," tutur Dadang.
"Sebab, musik ini adalah the way of life kami. Tidak semuanya bisa dinilai
dengan uang. Art is art, money is money," ucap Man Jasad menimpali.

Tidak diragukan lagi, kekuatan ketabahan hati dan pikiran inilah yang
membuat kelompok metal di Bandung ini tetap bertahan. Persis sesuai dengan
paradigma mereka: panceg dina galur, moal ingkah najan awak lembur!

Band Underground Dari UjungBerung

Band underground dari Ujungberung memiliki prestasi yang tidak bisa dianggap enteng. Selain punya pasar di dalam negeri, lagu-lagu mereka juga pernah dirilis di luar negeri.

Jasad band lagu-lagunya sempat dirilis di Amerika oleh sebuah label di Amerika. Sedangkan Forgotten albumnya dirilis di Jerman dan Eropa Timur.

Adapun Burgerkill pernah mendapat penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2004 dengan menyabet kategori Best Metal Production untuk albumnya ”Berkarat”. Album ketiga Burgerkill, ”Beyond Coma and Despair”, dinobatkan menjadi salah satu dari 150 album sepanjang masa di Indonesia versi majalah Rolling Stone.

Bagi yang tidak mengikuti dunia musik metal, mari kita berkenalan dengan band-band tersebut. Burgerkill yang mengusung musik hardcore dibentuk awal tahun 1995 oleh Eben, Kimung, dan almarhum Ivan. Mereka adalah teman satu sekolah di SMA Negeri 1 Ujungberung. Sampai sekarang, personel lama yang masih ada di Burgerkill tinggal Eben.

Sempat dikontrak label besar Sony Music Indonesia, belakangan Burgerkill meninggalkan Sony karena tidak ada kesesuaian. Album-album Burgerkill kini ditangani label rekaman Revolt! yang didirikan Eben.

Sedangkan Jasad diawaki oleh Man, Ferly, Yuli, dan Dani. Selain bermusik, Dani, penabuh drum Jasad, membuka studio band kecil-kecilan di rumahnya. Dani juga memberi kursus drum di rumahnya.

Forgotten didirikan tahun 1994 dan salah satu pendirinya adalah Addy Gembel. Sampai sekarang, Forgotten sudah mengeluarkan empat album yang diproduksi sendiri. Agar karyanya bisa dinikmati orang banyak, Addy Gembel mengaku malah bekerja sama dengan para pembajak compact disc (CD).

”Semakin banyak dibajak semakin bagus. Bagi saya, ide itu gratis,” kata Addy. Selain membajak lagunya sendiri, seperti band-band lain Addy juga memasang lagu-lagunya di situs web. Dari situ lagu-lagu Forgotten bisa dengan mudah diunduh (download) oleh siapa saja yang masuk ke situs web Forgotten. Hal sama dilakukan oleh Burgerkill, Jasad, dan band-band lain.

Bicara soal band rock/metal di Bandung pasti tidak bisa lepas dari Koil. Band electro metal ini juga lahir dari komunitas independen di Bandung, namun bukan berasal dari Ujungberung. Koil yang berdiri tahun 1993 ini diawaki oleh Leon, Doni, Ibrahim, dan Otong.

Perusahaan minuman keras Jack Daniel’s menggandeng Koil untuk dijadikan ikon produknya. Menurut Otong, Koil ketika itu membutuhkan biaya untuk mempromosikan albumnya.

Sahabat

Kalau disimak, band-band metal di Bandung rata-rata sudah eksis sejak belasan tahun. Selain bermain band, mereka juga bekerja sama membuka bisnis yang biasanya berlandaskan kepercayaan. Menurut Gustaf, seniman yang juga mengelola Commonroom Foundation, hal itu disebabkan karena hubungan antarpersonel band itu sudah terjalin sejak mereka masih remaja. ”Mereka punya semangat untuk maju bersama dengan teman masa kecil,” kata Gustaf.

Personel Koil, misalnya, sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Selain band, Otong dan Leon lalu membuka kantin di samping Distro God Incorporated, yang juga dimiliki oleh Otong. Leon yang drummer ternyata jago memasak mulai dari nasi goreng hingga ayam rica-rica.

Persahabatan Addy dengan teman-temannya di Forgotten juga terjalin semenjak mereka SMP dan SMA. Demikian juga dengan Ameng dan Abah dari Disinffected. Perusahaan sablon Melted Print yang dijalankan Ameng dan Abah semua karyawannya adalah teman-teman mereka.

Lapangan kerja yang dibuka Eben Burgerkill juga menampung teman-teman Eben di Ujungberung. Selain bermusik, Eben juga mengelola usaha sablon, dapur rekaman, studio musik, dan perusahaan periklanan.

Sejarah Death Metal

Sejarah death metal

Saya ingin membicarakan perihal death metal dan banyak keajaiban sekitar hal itu yang saya saksikan. Meskipun death metal hampir tidak dikenal oleh dunia luas (kalangan mainstream), ini adalah sebuah genre besar yang memiliki area yang luas untuk dijelajahi. Bahkan masih terdapat wilayah-wilayah dalam death metal yang belum diselidiki hingga saat ini… Secara musikal, death metal adalah aliran paling fleksibel di antara genre metal lainnya. Ia tidak hanya memiliki kadar brutalitas berlebih, namun juga absah dengan sifat-sifat teknikal, melodikal, dan kerumitan tertentu. Hal-hal kecil boleh masuk dan tetap menjadi death metal. Genre metal lainnya tidak bisa seperti itu. Death metal bisa diibaratkan seperti air. Bagi kalangan luar mungkin kelihatannya biasa namun death metal mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki substansi lain. Pernahkah anda menjumpai sebuah band progressive metal yang vokalnya growling terus-menerus? Pernahkan anda menyaksikan sebuah band power metal dengan brutalitas tingkat ekstrim dalam musiknya? Tidak. Saya kira tidak.

Karakteristik Death Metal

Sebelum saya masuk ke inti bahasan, saya ingin mengenalkan anda sedikit mengenai genre ini. Secara sederhana, death metal adalah perpaduan antara suara growling yang dalam, gitar yang disetel rendah serta penuh distorsi, bass yang berat, serta drum yang intense dan menderu. Lirik lagu adalah penarik perhatian utama departemen kreatif. Temanya bisa beragam, dari darah dan gore, setan, hingga horor dan filsafat. Struktur musiknya juga variatif, mulai yang simpel dan brutal, hingga yang intense dan teknikal. Growl vokal berbeda-beda, antara lain growl tinggi dan parau, serta growl rendah nan garang. Saking kayanya, orang bisa bilang bahwa death metal itu sekaya kerajaan binatang!Sejarah Death Metal

Sekarang kita beranjak ke sejarah death metal. Genre ini sendiri memiliki latar belakang yang luas dan warna-warni. Agak sukar bagi saya untuk menjelaskan semua sisi genre hebat ini dalam satu hari. Karena itu di sini saya akan berusaha menunjukkan hal-hal utama saja, dan peristiwa-peristiwa penting yang mewakili inovasi ke depan, dan topik-topik semacam ini. Sekarang silakan anda duduk dengan nyaman karena saya akan segera membawa anda ke suatu perjalanan menyelami death metal.

Death Metal Gelombang Pertama (1983 - 1990)

Death metal dapat dirunut akarnya ke masa keemasan heavy metal di tahun 1980-an. Dari pengaruh hebat yang dibawa band-band thrash metal seperti Slayer dan Kreator, death metal mulai tumbuh semenjak sebagian kecil orang yang tersebar di Amerika mencomot sound thrash metal yang cepat dan agresif milik Slayer dan Kreator lalu menambahkannya dengan ramuan brutal berkadar ekstra. Tidak diketahui dengan pasti band mana yang menjadi penemu pertama death metal namun penelitian telah membawa kita kepada tiga nama kunci ; Death dari Florida (Death aslinya bernama Mantas ketika pertama kali dibentuk), Possessed yang lahir di California, dan Master yang berbasis di Illinois; ketiga band ini sama-sama terbentuk tahun 1983.

Sound yang diperkenalkan ketiga band ini adalah drum yang sangat cepat, menderu dan konsisten dengan blast-beat, riff secepat halilintar, dan vokal growl rendah serta parau yang dikombinasikan dengan teriakan tinggi yang memekakkan telinga.
Isi liriknya sebagian besar membawa tema gore dan setan. Beberapa event penting terjadi di tahun 80-an. Death memulai terbentuknya scene death metal di Florida, nantinya hal ini berpengaruh terhadap berdirinya dua band inovatif lain di kota yang sama di era 80-an yakni Morbid Angel dan Obituary.
Possessed membantu menanamkan tema satanisme sebagai tema lirik utama, serta berpengaruh terhadap berdirinya band-band death metal di California. Master membantu berdirinya scene death metal di North East (Illinois, New York, Pennsylvania, dsb).

Di samping tiga inovator tersebut (Death, Possessed, Master), ada beberapa band penting lain yang juga bermunculan di era 80-an yang kelak akan menjadi band death metal yang sangat diperhitungkan. Band-band itu antara lain Morbid Angel, Obituary, Deicide, dan Cannibal Corpse. Kita akan membicarakan band-band itu nanti.

Ciri musik:

1. Growl yang rendah dan parau serta teriakan bernada tinggi.
2. Gitar yang disetel rendah, penuh distorsi.
3. Bass yang gelap dan garang.
4. Drum yang bertempo sangat cepat, blast-beat.
5. Secara keseluruhan, sound-nya sangat dekat dengan sound genre ayahnya, yakni Thrash Metal.

Album penting:

1. Death “Scream Bloody Gore”
2. Possessed “Seven Churches”
3. Master “Master”
4. Obituary “Slowly We Rot”
5. Morbid Angel “Altars Of Madness”Death Metal Gelombang Kedua (1990 - 1999)

Masa kedua adalah sebuah era di mana death metal benar-benar mulai populer. Banyak hal terjadi di era ini; bermunculannya band-band penting, perubahan dalam sound, dan merebaknya kontroversi di sekitar aliran ini. Pada kenyataannya banyak sekali peristiwa penting terjadi di masa ini, saya akan mencoba memecahnya berdasarkan tahun. Jangan kaget apabila saya mengganti pokok pembicaraan terlalu tiba-tiba.

Pada tahun 1990, Death merilis “Spiritual Healing”, sebuah album dengan tema yang agak lain dibanding tema album death metal saat itu. Di album ini mereka lebih berfokus pada isu sosial dan filosofis, tidak lagi darah dan gore seperti dua album mereka sebelumnya. Deicide merilis album debutnya, “Deicide”. Album ini benar-benar mengangkat satanisme ke tingkat yang sangat ekstrim. Satanisme yang sangat serius, bukan satanisme murahan yang pernah anda temukan dalam album-album Venom. Bisa jadi saya terlalu melebih-lebihkan saja karena saya fans Deicide. Yang jelas album ini sangat sukses di kalangan underground, karena musiknya yang catchy dan mengesankan. Di tahun yang sama Cannibal Corpse mengeluarkan album pertamanya, “Eaten Back To Life”. Album ini memperkenalkan sebuah gaya baru dalam growl yang disebut ‘The Cookie Monster’ yang dibawa oleh vokalis mereka, Chris Barnes. Dalam growl gaya ini, suara yang dikeluarkan lebih kasar dan dalam, mirip dengan vokal sebuah tokoh dalam Sesame Street, the Cookie Monster. Dan karena gaya vokal ini mengeluarkan sound yang agresif dan jahat, kata-kata yang diucapkan vokalis menjadi lebih susah ditangkap. Kelak gaya vokal ini akan menjadi penanda utama atau atribut paling mudah dikenal orang saat mereka membicarakan death metal.

Sekarang kita masuk ke tahun 1991. Tahun ini menjadi saksi munculnya brutal death metal, yang dimainkan oleh dua inovator utama aliran ini, Suffocation dan Immolation. Genre ini dicirikan oleh growl yang rendah dan ultra-berat, dan penekanan ekstra pada bass, gitar dengan setelan rendah, dan penggunaan bass drum yang lebih intense. Genre ini, meski kelihatannya amat simpel, namun untuk memainkannya membutuhkan ketrampilan teknis dan penguasaan musik yang tinggi. Dua album brutal death metal yang dirilis di tahun ini adalah “Effigy Of The Forgotten” dari Suffocation dan “Dawn Of Possession” milik Immolation.

Tahun 1992 tercatat sebagai tahun di mana death metal mulai menunjukkan kesuksesan komersil. Dimulai dengan album masterpiece dari Obituary, “The End Complete”. Album ini terjual 250.000 kopi di seluruh dunia, termasuk salah satu album death metal paling laris sepanjang masa. Ada beberapa faktor yang berperan dalam kesuksesan album ini. Pertama adalah label. Obituary dikontrak oleh Roadrunner Records, sebuah label cukup besar yang menjadi rumah bagi band-band death metal terdahulu. Roadrunner memiliki modal untuk mencetak banyak kopi dan mampu mengedarkannya ke para distributor. Kedua adalah basis penggemar yang luas. Obituary telah memiliki basis fans yang hebat saat album mereka keluar. Ketiga adalah fakta bahwa di tahun yang sama, Obituary melakukan tur bersama band death metal terkenal lain, Cannibal Corpse. Album sukses lain yang keluar tahun tersebut adalah “Legion” dari Deicide. Album ini juga dirilis oleh Roadrunner Records dan didistribusikan luas ke seluruh belahan dunia. Album paling inovatif pada tahun tersebut adalah “Soul Of A New Machine” dari Fear Factory. Rilisan ini adalah album death metal pertama yang mengenalkan vokal bersih, suatu langkah yang dianggap tabu bertahun-tahun sebelumnya. Terobosan ini akan menjadi jalan bagi banyak band death metal untuk melakukan inovasi mencengangkan dalam aliran ini kemudian.

Melangkah ke tahun 1993. Peristiwa paling menonjol di tahun ini adalah rilisan album “Covenant” milik Morbid Angel. Dianggap penting sebab itu adalah album death metal pertama yang dirilis oleh label besar, mencatatkan Morbid Angel sebagai band death metal pertama yang bergabung dengan label besar. Label yang mengontrak mereka adalah Giant Records. Meski tidak tampak seperti label besar namun Giant Records ditopang oleh Warner Brother Records, salah satu label rekaman terbesar di dunia.

Sekarang saatnya mengoper persneling. Di tahun 1994, Cannibal Corpse merilis “The Bleeding”, album rekaman terakhir mereka bersama vokalis Chris Barnes. Cryptopsy meluncurkan “None So Vile”, salah satu album death metal terbaik yang pernah dihasilkan oleh band Kanada. Di tahun 1995, Suffocation mengeluarkan “Pierced From Within”, yang dengan cepat menjadi album death metal klasik.

Melompat ke tahun 1998, kita akan menemukan band pionir death metal dari Florida, Death, merilis album terakhir mereka “The Sound of Perseverance”. Album ini memperlihatkan puncak pencapaian band ini. Sound mereka bergeser dari death metal menjadi lebih progressive metal. Album ini merangkum teknik perkusi rumit dari sosok terkenal Richard Christy, performa bass luar biasa Scott Clendenin, serta permainan gitar yang kompleks dan dalam oleh duo Shannon Hamm dan Chuck Schuldiner. Ini adalah album yang benar-benar memberi definisi baru genre death metal. Sama pentingnya dengan “The Sound of Perseverance”, adalah “Gore Metal”, debut album milik Exhumed. Dianggap penting karena album ini juga merekam perkembangan genre musik. Gore Metal berakar dari death metal, namun memiliki sound melodik lebih banyak dan riff yang catchy. Yang jelas, dalam album ini seringkali ada tiga vokalis yang berbeda, seperti Carcass di awal karirnya. Album ini segera menjadi inspirasi ribuan band lain untuk menirunya, dan memainkan jenis musik yang sama. Anyway, ini era yang ekspansif. Karena tak mungkin bagi saya untuk menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di era tersebut pada halaman ini, saya akan berhenti di sini.

Ciri Musik:

1. Kemunculan brutal death metal
2. Berkembangnya progressive death metal
3. Membiaknya Gore Metal

Album Penting:

1. Death “The Sound Of Perseverance”
2. Morbid Angel “Covenant”
3. Deicide “Legion”
4. Cannibal Corpse “Eaten Back To Life”
5. Suffocation “Pierced From Within”
6. Immolation “Dawn Of Possession”
7. Exhumed “Gore Metal”

Death Metal Gelombang Ketiga (2000 - sekarang)

Ini adalah gelombang terkini dalam death metal. Di era ini kita bisa melihat bahwa death metal kembali memperoleh popularitasnya kembali di seluruh penjuru dunia. Ide-ide baru tumbuh subur dari dalam bawah tanah. Band-band baru menjejakkan langkah mereka menuju kerajaan baru. Rilisan penting pertama di era ini adalah album Morbid Angel “Gateways to Annihilation” di tahun 2000. Album ini meneruskan pengaruh progressive death metal yang dibawa Death. Album lain yang dirilis di tahun yang sama adalah “Insineratehymn”, sebuah karya yang menancapkan kembali pengaruh Deicide.

Tragedi menimpa masyarakat death metal pada 2001 dengan kematian Chuck Schuldiner karena kanker otak. Komunitas death metal berduka karena kehilangan salah satu sosok pionir dan pemikir terbaiknya. Melangkah ke 2002, kita menyaksikan lebih ekspansifnya penyebaran gore metal, seiring rilisan kaya inovasi “Mondo Medicale” dari Impaled. Tak dapat dilepaskan dari pengaruh hebat Carcass, Impaled membangun genre gore metal dengan melodi dan kemampuan bermusik yang prima. Death metal terus berkembang di tahun 2003, saat Exhumed meluncurkan “Anatomy Is Destiny”. Dalam album ini riff menjadi bagian wajib, skill juga makin mendapatkan fokus yang lebih besar, dan pengaruh band-band Swedish death metal makin kentara. Saat ini kita tengah hidup di era gelombang ketiga death metal dan keadaan senantiasa berubah. Kita belum tahu ke mana gelombang ini akan membawa kita, jadi kita tunggu saja.MAAF KALO REPOST
MAKLUM PERTAMA KALI BIKIN THREAD BRO

No comments:

Post a Comment

Post a Comment